Sunday, 18 December 2011

A136693: PEMIKIRAN KRITIS

              ISTILAH kritikal berasal dari perkataan Greek kritikos yang bermaksud judge atau menghakimi atau mengadili. Dalam tradisi orang-orang Greek dan Yunani, ia melahirkan pemikir-pemikir yang amat kritikal terhadap sesuatu subjek dan akhirnya menjadi ahli falsafah yang terkenal.

 Barat menjadikan asas berfikir Aristotle, Plato dan Socrates sebagai landasan mengembangkan ilmu dan kehidupan. Dalam tradisi orang-orang Islam pemikiran kritikal memang menjadi landasan dalam membuat sesuatu keputusan, tafsir dan takwil . Menafsir al- Quran dan hadis dilakukan secara kritikal supaya hasil pemikiran selari dengan kebenaran. Kebenaran dalam Islam merujuk kepada sumber naqliah atau sumber wahyu. Wahyu adalah autoriti atau wibawa yang tertinggi dalam memandu manusia berfikir supaya kebenaran yang diterima tidak saja zahir tetapi memberi makna yang hakiki.
                                                     

Berfikir secara kritikal membimbing pemikir ke arah kebenaran. Puncak kepada berfikir menemukan manusia mengenai kebenaran. Proses berfikir kritikal membolehkan seseorang membezakan yang benar dengan yang salah, yang buruk dengan yang baik, yang bermanfaat dan bermusibat, yang memberi faedah atau mendatangkan padah dan sebagainya. Sudah tentu asas yang memberikan kemampuan seseorang berfikir kritikal ialah ilmu, maklumat, pengalaman, pertukaran pandangan dan dalam tradisi Islam diakhiri dengan hikmah. Hikmahlah merupakan jalan terbaik membimbing manusia menemui kebenaran.

Para remaja adalah kelompok yang terbaik dilatih untuk berfikir kritikal. Kemajuan ilmu dan pemikiran atau idea bergantung kepada wujudnya suasana yang mengizinkan pemikiran kritikal berlaku. Apalagi untuk melahirkan modal insan yang berkualiti kemahiran berfikir secara kritikal adalah amat dituntut. Remaja bakal menjadi dewasa dan bakal memegang teraju kepimpinan dan pengurusan ilmu, sistem dan negara pada masa depan.
             Amat penting remaja hari ini dididik dengan kemahiran berfikir yang kritikal supaya jenis cabaran yang dinamik berubah tidak menjadikan remaja gelabah untuk mencari arah diri dan arah tujuan dalam mengurus manusia dan kemanusiaan.

            Di zaman pasca moden ini faham anarki (ketidakaturan) berkembang pesat dalam pemikiran, kesenian, bahasa, kebudayaan malah gaya hidup manusia. Globalisasi yang datang menjadi pemangkin terhadap jalur anarki. Kemajuan sains dan teknologi menyebabkan faham anarki semakin mengukuh dengan melebarkan jaringan komunikasi dan telekomunikasi dan akhirnya membentuk suatu budaya popular yang menghubungkan sesuatu dengan konsep realiti.Konsep realiti sudah mula menolak jalur tradisi dan akhirnya bakal menjinjing manusia kepada kesamaran hala tuju hidup.
  
Untuk menjadikan remaja berfikir secara kritikal, pemahaman terhadap tradisi perlu kukuh, asas ilmu harus teguh, sikap terbuka terhadap perbezaan perlu ada, ketelitian terhadap fakta dan data perlu wujud. Kesediaan diri untuk dikritik dan mengkritik juga perlu ada. Tanpa asas ini pemikiran kritikal tidak akan berkembang. Pemikiran kritikal memandu remaja berfikir secara teliti, analitikal dan berupaya memberikan hujah-hujah yang baik dan bernas apabila fakta itu didapati tidak benar atau diolah dengan dangkal atau tidak berasaskan maklumat yang sahih dan jitu.

" melalui pembacaan artikel ini, remaja diberi penekanan untuk berfikiran secara kritis kerana mereka laa yang akan menerajui bumi kita,, pemikiran secara kritis ini dapat melahirkan seorang insan yang matang,bersifat objektif dalam membuat penilaian dan keputusan,sensitif dan prihatin,berjiwa besar,yakin dan berani,berhemah dan akhir sekali tidak akan mudah dipengaruhi...tetapi untuk melahirkan insan seperti itu, seseorang perlulah tidak begitu mudah untuk terus menerima atau bersetuju terhadap sesuatu perkara, berfikir secara mendalam dan bersifat reaktif,penilaian analisis dan logik..seseorang itu perlulah tahu tentang komponen pemikiran kritis iaitu kemahiran menganalisis secara kritis dan kemahiran menilai secara kritis...oleh itu, terhasillah insan yang cemerlang, gemilang dan terbilang,,"

rujukan:
2. pusat pengajian umum universiti kebangsaan malaysia, modul pembangunan diri, edisi pertama, pusat pengajian umum, 2011.



Thursday, 15 December 2011

A136264: PEMIMPIN DAN KEPEMIMPINAN MENURUT ISLAM

Pemimpin dan Kepemimpinan merupakan dua elemen yang saling berkaitan. Artinya, kepemimpinan (style of the leader) merupakan cerminan dari karakter/perilaku pemimpinnya (leader behavior). Perpaduan atau sintesis antara “leader behavior dengan leader style” merupakan kunci keberhasilan pengelolaan organisasi; atau dalam skala yang lebih luas adalah pengelolaan daerah atau wilayah, dan bahkan Negara.
Banyak pakar manajemen yang mengemukakan pendapatnya tentang kepemimpinan. Dalam hal ini dikemukakan George R. Terry (2006 : 495), sebagai berikut: “Kepemimpinan adalah kegiatan-kegiatan untuk mempengaruhi orang orang agar mau bekerja sama untuk mencapai tujuan kelompok secara sukarela.”
Dari defenisi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam kepemimpinan ada keterkaitan antara pemimpin dengan berbagai kegiatan yang dihasilkan oleh pemimpin tersebut. Pemimpin adalah seseorang yang dapat mempersatukan orang-orang dan dapat mengarahkannya sedemikian rupa untuk mencapai tujuan tertentu. Untuk mencapai tujuan yang diinginkan oleh seorang pemimpin, maka ia harus mempunyai kemampuan untuk mengatur lingkungan kepemimpinannya.
Kepemimpinan menurut Halpin Winer yang dikutip oleh Dadi Permadi (2000 : 35) bahwa : “Kepemimpinan yang menekankan dua dimensi perilaku pimpinan apa yang dia istilahkan “initiating structure” (memprakarsai struktur) dan “consideration” (pertimbangan). Memprakarsai struktur adalah perilaku pemimpin dalam menentukan hubungan kerja dengan bawahannya dan juga usahanya dalam membentuk pola-pola organisasi, saluran komunikasi dan prosedur kerja yang jelas. Sedangkan pertimbangan adalah perilaku pemimpin dalam menunjukkan persahabatan dan respek dalam hubungan kerja antara pemimpin dan bawahannya dalam suatu kerja.”
Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan:
bahwa kepemimpinan adalah “proses mempengaruhi aktivitas seseorang atau kelompok orang untuk mencapai tujuan dalam situasi tertentu.”
Dari defenisi kepemimpinan itu dapat disimpulkan bahwa proses kepemimpinan adalah fungsi pemimpin, pengikut dan variabel situasional lainnya. Perlu diperhatikan bahwa defenisi tersebut tidak menyebutkan
suatu jenis organisasi tertentu. Dalam situasi apa pun dimana seseorang berusaha mempengaruhi perilaku orang lain atau kelompok, maka sedang berlangsung kepemimpinan dari waktu ke waktu, apakah aktivitasnya dipusatkan dalam dunia usaha, pendidikan, rumah sakit, organisasi politik atau keluarga, masyarakat, bahkan bangsa dan negara.
Sedangkan George R Terry (2006 : 124), mengemukakan 8 (delapan) ciri mengenai kepemimpinan dari pemimpin yaitu :
(1) Energik, mempunyai kekuatan mental dan fisik;
(2) Stabilitas emosi, tidak boleh mempunyai prasangka jelek terhadap bawahannya, tidak cepat marah dan harus mempunyai kepercayaan diri yang cukup besar;
(3) Mempunyai pengetahuan tentang hubungan antara manusia;
(4) Motivasi pribadi, harus mempunyai keinginan untuk menjadi pemimpin dan dapat memotivasi diri sendiri;
(5) Kemampuan berkomunikasi, atau kecakapan dalam berkomunikasi dan atau bernegosiasi;
(6) Kemamapuan atau kecakapan dalam mengajar, menjelaskan, dan mengembangkan bawahan;
(7) Kemampuan sosial atau keahlian rasa sosial, agar dapat menjamin kepercayaan dan kesetiaan bawahannya, suka menolong, senang jika bawahannya maju, peramah, dan luwes dalam bergaul;
(8) Kemampuan teknik, atau kecakapan menganalisis, merencanakan, mengorganisasikan wewenang, mangambil keputusan dan mampu menyusun konsep.
Kemudian, kepemimpinan yang berhasil di abad globalisasi menurut Dave Ulrich adalah: “Merupakan perkalian antara kredibilitas dan kapabilitas.” Kredibilitas adalah ciri-ciri yang ada pada seorang pemimpin seperti kompetensi-kompetensi, sifatsifat, nilai-nilai dan kebiasaan-kebiasaan yang bisa dipercaya baik oleh bawahan maupun oleh lingkungannya.
Sedangkan kapabilitas adalah kamampuan pemimpin dalam menata visi, misi, dan strategi serta dalam mengembangkan sumber-sumber daya manusia untuk kepentingan memajukan organisasi dan atau wilayah
kepemimpinannya.” Kredibilitas pribadi yang ditampilkan pemimpin yang menunjukkan kompetensi seperti mempunyai kekuatan keahlian (expert power) disamping adanya sifat-sifat, nilai-nilai dan kebiasaan-kebiasaan yang positif (moral character) bila dikalikan dengan kemampuan pemimpin dalam menata visi, misi, dan strategi organisasi/ wilayah yang jelas akan merupakan suatu kekuatan dalam menjalankan roda organisasi/wilayah dalam rangka mencapai tujuannya.
Kepemimpinan Dalam Islam
Kepemimpinan Islam adalah kepemimpinan yang berdasarkan hukum Allah. Oleh karena itu, pemimpin haruslah orang yang paling tahu tentang hukum Ilahi. Setelah para imam atau khalifah tiada, kepemimpinan harus dipegang oleh para faqih yang memenuhi syarat-syarat syariat. Bila tak seorang pun faqih yang memenuhi syarat, harus dibentuk ‘majelis fukaha’.”
Sesungguhnya, dalam Islam, figur pemimpin ideal yang menjadi contoh dan suritauladan yang baik, bahkan menjadi rahmat bagi manusia (rahmatan linnas) dan rahmat bagi alam (rahmatan lil’alamin) adalah Muhammad Rasulullah Saw., sebagaimana dalam firman-Nya :
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS.
al-Ahzab [33]: 21).
Sebenarnya, setiap manusia adalah pemimpin, minimal pemimpin terhadap seluruh metafisik dirinya. Dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas segala kepemimpinannya. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam sabda Rasulullah Saw., yang maknanya sebagai berikut :
“Ingatlah! Setiap kamu adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawaban tentang kepemimpinannya, seorang suami adalah pemimpin keluarganya dan ia akan dimintai pertanggung jawaban tentang kepemimpinannya, wanita adalah pemimpin bagi kehidupan rumah tangga suami dan anak-anaknya, dan ia akan dimintai pertanggung jawaban tentang kepemimpinannya. Ingatlah! Bahwa kalian adalah sebagai pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawaban
tentang kepemimpinannya,” (Al-Hadits).
Kemudian, dalam Islam seorang pemimpin yang baik adalah pemimpin yang memiliki sekurang-kurangnya 4 (empat) sifat dalam menjalankan kepemimpinannya, yakni : Siddiq, Tabligh, Amanah dan Fathanah (STAF):
(1) Siddiq (jujur) sehingga ia dapat dipercaya;
(2) Tabligh (penyampai) atau kemampuan berkomunikasi dan bernegosiasi;
(3) Amanah (bertanggung jawab) dalam menjalankan tugasnya;
(4) Fathanah (cerdas) dalam membuat perencanaan, visi, misi, strategi dan mengimplementasikannya.
Selain itu, juga dikenal ciri pemimpin Islam dimana Nabi Saw pernah bersabda: “Pemimpin suatu kelompok adalah pelayan kelompok tersebut.” Oleh sebab itu, pemimpin hendaklah ia melayani dan bukan dilayani, serta menolong orang lain untuk maju.
Dr. Hisham Yahya Altalib (1991 : 55), mengatakan ada beberapa ciri penting yang menggambarkan kepemimpinan Islam yaitu :
Pertama, Setia kepada Allah. Pemimpin dan orang yang dipimpin terikat dengan kesetiaan kepada Allah;
Kedua, Tujuan Islam secara menyeluruh. Pemimpin melihat tujuan organisasi bukan saja berdasarkan kepentingan kelompok, tetapi juga dalam ruang lingkup kepentingan Islam yang lebih luas;
Ketiga, Berpegang pada syariat dan akhlak Islam. Pemimpin terikat dengan peraturan Islam, dan boleh menjadi pemimpin selama ia berpegang teguh pada perintah syariah.
Dalam mengendalikan urusannya ia harus patuh kepada adab-adab Islam, khususnya ketika berurusan dengan golongan oposisi atau orang-orang yang tak sepaham;
Keempat, Pengemban amanat. Pemimpin menerima kekuasaan sebagai amanah dari Allah Swt., yang disertai oleh tanggung jawab yang besar. Al-Quran memerintahkan pemimpin melaksanakan tugasnya untuk Allah dan menunjukkan sikap yang baik kepada pengikut atau bawahannya.
Dalam Al-Quran Allah Swt berfirman :
“(yaitu) orang-orang yang jika kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.” (QS. al-Hajj [22]:41).
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah adanya prinsip-prinsip
dasar dalam kepemimpinan Islam yakni : Musyawarah; Keadilan; dan Kebebasan berfikir.
Secara ringkas penulis ingin mengemukakan bahwasanya pemimpin Islam bukanlah kepemimpinan tirani dan tanpa koordinasi. Tetapi ia mendasari dirinya dengan prinsip-prinsip Islam. Bermusyawarah dengan sahabat-sahabatnya secara obyektif dan dengan penuh rasa hormat, membuat keputusan seadil-adilnya, dan berjuang menciptakan kebebasan berfikir, pertukaran gagasan yang sehat dan bebas, saling kritik dan saling menasihati satu sama lain sedemikian rupa, sehingga para pengikut atau bawahan merasa senang mendiskusikan persoalan yang menjadi kepentingan dan tujuan bersama. Pemimpin Islam bertanggung jawab bukan hanya kepada pengikut atau bawahannya semata, tetapi yang jauh lebih penting adalah tanggung jawabnya kepada Allah Swt. selaku pengemban amanah kepemimpinan. Kemudian perlu dipahami bahwa seorang muslim diminta memberikan nasihat bila diperlukan, sebagaimana Hadits Nabi dari :Tamim bin Aws
meriwayatkan bahwasanya Rasulullah Saw. pernah bersabda:
“Agama adalah nasihat.” Kami berkata: “Kepada siapa?”
Beliau menjawab: “Kepada Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, Pemimpin umat Islam dan kepada masyarakat kamu.”
Nah, kepada para pemimpin, mulai dari skala yang lebih kecil, sampai pada tingkat mondial, penulis hanya ingin mengingatkan, semoga tulisan ini bisa dipahami, dijadikan nasihat dan sekaligus dapat dilaksanakan dengan baik. Insya Allah. Amiin !
Itu saja. Dan terima kasih.

Wednesday, 14 December 2011

A136264: Pemimpin Menurut Islam

Pemimpin Menurut Islam

Setiap manusia yang terlahir dibumi dari yang pertama hingga yang terakhir adalah seorang pemimpin, setidaknya ia adalah seorang pemimpin bagi dirinya sendiri. Bagus tidaknya seorang pemimpin pasti berimbas kepada apa yang dipimpin olehnya. Karena itu menjadi pemimpin adalah amanah yang harus dilaksanakan dan dijalankan dengan baik oleh pemimpin tersebut,karena kelak Allah akan meminta pertanggung jawaban atas kepemimpinannya itu.

Dalam Islam sudah ada aturan-aturan yang berkaitan tentang pemimpin yang baik diantaranya :

Beriman dan Beramal Shaleh
Ini sudah pasti tentunya. Kita harus memilih pemimpin orang yang beriman, bertaqwa, selalu menjalankan perintah Allah dan rasulnya. Karena ini merupakan jalan kebenaran yang membawa kepada kehidupan yang damai, tentram, dan bahagia dunia maupun akherat. Disamping itu juga harus yang mengamalkan keimanannya itu yaitu dalam bentuk amal soleh.

Niat yang Lurus
Hendaklah saat menerima suatu tanggung jawab, dilandasi dengan niat sesuai dengan apa yang telah Allah perintahkan.Karena suatu amalan itu bergantung pada niatnya, itu semua telah ditulis dalam H.R bukhari-muslim
Dari Amīr al-Mu’minīn, Abū Hafsh ‘Umar bin al-Khaththāb r.a, dia menjelaskan bahwa dia mendengar Rasulullah s.a.w bersabda:
“Sesungguhnya setiap amal perbuatan tergantung pada niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) sesuai dengan niatnya. Barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya karena urusan dunia yang ingin digapainya atau karena seorang wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya sesuai dengan apa yang diniatkannya tersebut”

Karena itu hendaklah menjadi seorang pemimpin hanya karena mencari keridhoan ALLAH saja dan sesungguhnya kepemimpinan atau jabatan adalah tanggung jawab dan beban, bukan kesempatan dan kemuliaan.


Laki-Laki
Dalam Al-qur'an surat An nisaa' (4) :34 telah diterangkan bahwa laki laki adalah pemimpin dari kaum wanita.

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh ialah yang ta’at kepada Allah lagi memelihara diri (maksudnya tidak berlaku serong ataupun curang serta memelihara rahasia dan harta suaminya) ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara “(mereka; maksudnya, Allah telah mewajibkan kepada suami untuk mempergauli isterinya dengan baik).

Ayat ini menegaskan tentang kaum lelaki adalah pemimpin atas kaum wanita. Menurut Imam Ibnu Katsir, lelaki itu adalah pemimpin wanita, hakim atasnya, dan pendidiknya. Karena lelaki itu lebih utama dan lebih baik, sehingga kenabian dikhususkan pada kaum lelaki, dan demikian pula kepemimpinan tertinggi. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusan (kepemimpinan) mereka kepada seorang wanita.”(Hadits Riwayat Al-Bukhari dari Hadits Abdur Rahman bin Abi Bakrah dari ayahnya).

Tidak Meminta Jabatan
Rasullullah bersabda kepada Abdurrahman bin Samurah Radhiyallahu’anhu,”Wahai Abdul Rahman bin samurah! Janganlah kamu meminta untuk menjadi pemimpin.Sesungguhnya jika kepemimpinan diberikan kepada kamu karena permintaan, maka kamu akan memikul tanggung jawab sendirian, dan jika kepemimpinan itu diberikan kepada kamu bukan karena permintaan, maka kamu akan dibantu untuk menanggungnya.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Berpegang pada Hukum Allah.
Ini salah satu kewajiban utama seorang pemimpin.Allah berfirman,”Dan hendaklah kamu memutuskan perkara diantara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka.” (al-Maaidah:49).

Memutuskan Perkara Dengan Adil
Rasulullah bersabda,”Tidaklah seorang pemimpin mempunyai perkara kecuali ia akan datang dengannya pada hari kiamat dengan kondisi terikat, entah ia akan diselamatkan oleh keadilan, atau akan dijerusmuskan oleh kezhalimannya.” (Riwayat Baihaqi dari Abu Hurairah dalam kitab Al-Kabir).

Menasehati rakyat
Rasulullah bersabda,”Tidaklah seorang pemimpin yang memegang urusan kaum Muslimin lalu ia tidak bersungguh-sungguh dan tidak menasehati mereka, kecuali pemimpin itu tidak akan masuk surga bersama mereka (rakyatnya).”

Tidak Menerima Hadiah
Seorang rakyat yang memberikan hadiah kepada seorang pemimpin pasti mempunyai maksud tersembunyi, entah ingin mendekati atau mengambil hati.Oleh karena itu, hendaklah seorang pemimpin menolak pemberian hadiah dari rakyatnya.Rasulullah bersabda,” Pemberian hadiah kepada pemimpin adalah pengkhianatan.” (Riwayat Thabrani).

Tegas
ini merupakan sikap seorang pemimpin yang selalu di idam-idamkan oleh rakyatnya. Tegas bukan berarti otoriter, tapi tegas maksudnya adalah yang benar katakan benar dan yang salah katakan salah serta melaksanakan aturan hukum yang sesuai dengan Allah, SWT dan rasulnya.

Lemah Lembut
Doa Rasullullah,’ Ya Allah, barangsiapa mengurus satu perkara umatku lalu ia mempersulitnya, maka persulitlah ia, dan barang siapa yang mengurus satu perkara umatku lalu ia berlemah lembut kepada mereka, maka berlemah lembutlah kepadanya.

Selain poin- poin yang ada di atas seorang pemimpin dapat dikatakan baik bila ia memiliki STAF. STAF disini bukanlah staf dari pemimpin, melainkan sifat yang harus dimiliki oleh pemimpin tersebut. STAF yang dimaksud di sini adalah Sidiq(jujur),Tablig(menyampaikan),amanah(dapat dipercaya),fatonah(cerdas)

Sidiq itu berarti jujur. Bila seorang pemimpin itu jujur maka tidak adalagi KPK karena tidak adalagi korupsi yang terjadi dan jujur itu membawa ketenangan, kitapun diperintahkan jujur walaupun itu menyakitkan.
Tablig adalah menyampaikan, menyampaikan disini dapat berupa informasi juga yang lain. Selain menyampaikan seorang pemimpin juga tidak boleh menutup diri saat diperlukan rakyatnya karena Rasulullah bersabda,”Tidaklah seorang pemimpin atau pemerintah yang menutup pintunya terhadap kebutuhan, hajat, dan kemiskinan kecuali Allah akan menutup pintu-pintu langit terhadap kebutuhan, hajat, dan kemiskinannya.” (Riwayat Imam Ahmad dan At-Tirmidzi).
Amanah berarti dapat dipercaya. Rasulullah bersabda,” Jika seorang pemimpin menyebarkan keraguan dalam masyarakat, ia akan merusak mereka.” (Riwayat Imam Ahmad, Abu Dawud, dan Al-hakim). Karena itu seorang pemimpin harus ahli sehingga dapat dipercaya.
Fatonah ialah cerdas. Seorang pemimpin tidak hanya perlu jujur, dapat dipercaya, dan dapat menyampaikan tetapi juga cerdas. Karena jika seorang pemimpin tidak cerdas maka ia tidak dapat menyelesaikan masalah rakyatnya dan ia tidak dapat memajukan apa yang dipimpinnya.

Setelah kita mengetahui sebagian ciri- ciri pemimpin menurut islam. Marilah kita memilih dan membuat diri kita mendekati bahkan jika bisa menjadi seperti ciri- ciri pemimpin diatas karena kita merupakan Mahasiswa dan sebagai penerus bangsa.

A136282: Konsep Kepimpinan Dalam Islam

Konsep Kepimpinan Dalam Islam
Menurut perspektif Islam, kepimpinanmerupakan sesuatu amanah yang wajib dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, manakala pemimpin pula adalah bertanggungjawab dalam mengurus, mentadbir dan menjaga apa yang diamanahkan kepadanya. Antara yang perlu dijaga oleh seseorang pemimpin ialah menjaga dirinya daripada melakukan perbuatan mungkar dan menunaikan kewajipan syarak dan tugas-tugas yang dipikulkan kepadanya dengan baik dan adil.

QUDWAH HASANAH
Kepimpinan bukan sahaja dikaitkan dengan tanggungjawab kepimpinan dalam bentuk kelompok, bahkan kepada diri sendiri seperti mengawal pancaindera supaya sentiasa penuh mentaati Allah, menjauhi larangan-Nya, baik dalam bentuk perkataan, perbuatan mahupun dari sudut aqidah dan keyakinan sehingga mengakibatkan penyelewengan. Matlamatnya pula adalah untuk mempertingkatkan kualiti diri bagi melahirkan kepimpinan melalui teladan atau menjadi ‘qudwah hasanah’ yang seterusnya akan menghasilkan tokoh-tokoh pemimpin yang menjadi ikutan ramai dan pimpinan kepada orang lain serta masyarakat dari kelompok yang sedikit kepada yang lebih besar.

KESEIMBANGAN BERSEPADU
Kepimpinan dalam Islam adalah bersifat sepadu yang menitikberatkan keseimbangan di antara kepentingan roh dan jasad, antara perkembangan pembangunan spiritual dengan perkembangan material demi menjamin kesejahteraan hidup manusia di dunai dan di akhirat. Untukmencapaimatlamat kepimpinan yang bersepadu tersebut, pemimpin mestilah dipilih daripada, kalangan orang-orang yang paling berwibawa dan berkelayakan kerana penyerahan kuasa kepada orang yang tidak berkelayakan dan sesuai adalah mengkhianati Allah dan Rasul-Nya.

AMANAH
Justeru itu pemimpin mestilah berusaha mempertingkatkan kualiti diri dan kualiti kepimpinannya ke tahap yang lebih cemerlang. Kepimpinan dalam Islam bukanlah alat untuk memperoleh kekayaan, pangkat dan kesenangan hidup di dunia semata-mata, malah ianya merupakan amanah yang wajib ditunaikan demi kesejahteraan umat manusia seluruhnya. Kelalaian dan kegagalan pemimpin dalam melaksanakan tanggungjawab dan amanah tersebut sama ada pemimpin yang memimpin dalam keluarga dan rumah tangga, masyarakat atau negara akan mengakibatkan penyesalan dan kerugian di hari akhirat kelak.

FUNGSI KEPIMPINAN
Kepimpinan adalah suatu fungsi yang penting dalam Islam. Seorang individu menjadi pemimpin kepada dirinya sendiri, suami isteri mempunyai tugas kepimpinan mereka di dalam rumah tangga dan keluarga, imam memimpin jemaah solatnya sebagai para makmum, ketua masyarakat dan ketua negara memimpin rakyat serta seluruh warganya. Ini menunjukkan fungsi kepimpinan wujud di semua peringkat mengikut tahap-tahap dan tugas-tugas.

TANGGUNGJAWAB
Tegasnya, tugas kepimpinan yang telah digariskan dalam Islam ialah mendaulatkan kalimah Allah di pelbagai tahap dan peringkat tanggungjawab masing-masing. Umpamanya seorang lelaki yang telah berkeluarga mempunyai tanggungjawab yang lebih banyak berbanding mereka yang belum ada tanggungan, kerana ianya harus menunaikan tanggungjawab kepada dirinya dan keluarganya. Begitu juga seorang suami yang diberi amanah yang lain sebagai pemimpin masyarakat akan lebih berat tanggungjawab terhadap keluarga dan negara.

KONSEP KEPIMPINAN
Oleh itu, konsep kepimpinan yang berjaya menuntut supaya Islam yang merangkumi konsep iman dan amal salih dapat ditegakkan dalam diri setiap individu, keluarga dalam organisasinya, masyarakat dan negara sehingga kesepaduan antara kepentingan dunia dan akhirat dapat dicapai.

CIRI-CIRI KEPIMPINAN TAULADAN
Antara ciri-ciri yang perlu dimiliki oleh setiap pemimpin yang baik adalah menurut petunjuk yang terkandung dalam Al-Qur’an dan contoh kepimpinan yang diamalkan oleh Baginda Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam, kerana Baginda adalah contoh teladan yang unggul dalam segala bidang kehidupan. Firman Allah Subahanahu Wata’ala dalam Surah Al-Anbiyaa’ ayat 107 yang tafsirnya: “Dan tidaklah Kami (Allah) mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam semesta.” Baginda Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam bukan saja pemimpin agama yang memurnikan keyakinan dan aqidah umat manusia dari
kegelapan kepada cahaya kebenaran. Baginda juga adalah pemimpin yang berjaya menyusun suatu pemerintahan yang terunggul meliputi segala bidang kehidupan manusia, politik, pentadbiran, ketahanan negara, ekonomi, pendidikan, kehidupan sosio budaya masyarakat seluruhnya yang harmoni. Baginda seorang penggubal undang-undang, Pembina akhlak dan nilai moral yang tinggi.

KESIMPULAN
Kita sebagai umat Nabi Muhammad SallallahuAlaihi Wasallam yang diberi amanah tanggungjawab oleh Allah sebagai khalifah untuk memakmurkan alam ini daripada segala kemungkaran dan kefasiqkan dengan tugas kepimpinan yang tertentu mengikut tahap dan peringkat yang berbeza-beza, iaitu sebagai individu, ahli keluarga, pemimpin masyarakat, pemimpin bangsa dan pemimpin negara adalah bertanggungjawab bagi meneruskan risalah dan perjuangan Baginda Rasulullah SallallahuAlaihi Wasallam, demi kebaikan dan kesejahteraan seluruh umat manusia.

http://www.risda.gov.my/html/download/Buletin_Q_RISDA/Buletin_Q_Disember_2009.pdf

Tuesday, 13 December 2011

A136161: Pembelajaran sepanjang hayat dan pengurusan maklumat

A136436: Pembelajaran Sepanjang Hayat (PSH)

CABARAN PSH
  • ·         Sistem pengajian tinggi perlu lebih fleksibel dan responsif untuk menyediakan individu yang mampu mengamalkan PSH. Ia juga perlu memberikan ruang dan kerangka pengiktirafan yang membolehkan mobiliti pelajar melalui laluan pendidikan yang pelbagai. Hal ini sekali gus dapat meningkatkan penyertaan daripada pelbagai golongan dan memberikan peluang kedua mengikuti pengajian tinggi selepas mereka tidak mendapat peluang pertama untuk menghadirinya disebabkan oleh sesuatu halangan atau kekangan. Dalam konteks ini, cabaran yang dihadapi ialah bagaimana untuk meningkatkan penyertaan lebih ramai di kalangan orang awam tanpa mengira had umur untuk menyertai PSH.
  • ·         Pelbagai IPT terlibat dalam penyediaan pengajian PSH yang meliputi bukan sahaja IPT yang ditubuhkan khusus bagi maksud PSH, tetapi juga IPT konvensional lain yang turut menawarkan program pengajian di bawah kaedah ini. Justeru, kajian perlu dijalankan untuk menentukan sama ada IPT konvensional hanya menumpu kepada program pengajian sepenuh masa atau turut terlibat menyediakan program PSH. Ini memandangkan perbelanjaan besar yang perlu ditanggung oleh kerajaan pada setiap tahun bagi membiayai IPTA dan kebaikan yang boleh diperoleh jika IPT konvensional hanya mengkhusus dalam bidang teras masing-masing. Namun demikian, bagi program lanjutan pengajian yang dianjurkan oleh IPTA yang dapat berdikari dari segi kewangan, program sedemikian wajar diteruskan.
  • ·         Dasar PSH bukanlah satu perkara baru dan sebelum ini dasar ini pernah digubal oleh beberapa kementerian dan agensi. Sebagai contoh, JPA telah menggubal dasar PSH bagi meningkatkan tahap profesionalisme di kalangan penjawat awam. Manakala, Kementerian Sumber Manusia (KSM) menggubal pelan PSH bagi memenuhi keperluan kemahiran yang pelbagai, pengkhususan dalam industri dan pembangunan sumber manusia. Sebagai pelengkap kepada dasar atau pelan PSH yang dilaksanakan oleh kementerian / jabatan / agensi lain, IPT akan turut  melaksanakan program PSH.


A136176: PEMBELAJARAN SEPANJANG HAYAT

Pembelajaran Sepanjang Hayat (PSH) ataupun pembelajaran sepanjang umur bermaksud aktiviti pelajaran dan pembelajaran yang dilaksanakan sepanjang hayat khususnya orang dewasa.

Faedah pembelajaran sepanjang hayat

  • membaiki kehidupan seseorang menerusi peningkatan kemahiran kerja
  • pembaikan sahsiah diri
  • penambahan ilmu pengetahuan
  • meningkatakan produktivit


Amalan dalam pembelajaran sepanjang hayat

  • Amalan Membaca
  • Penyertaan Kursus Jangka Pendek
  • Penyertaan Kursus Jangka Panjang
  • Penyertaan Ceramah


Sebab perlunya pembelajaran sepanjang hayat

  • setiap individu akan melalui fasa perkembangan yang berbeza dan adanya tugas masing masing dan ianya perlu untuk memenuhi tugas-tugas dalam setiap fasa perkembangan
  • perkembangan teknologi berlaku dari masa ke masa dan ianya harus diperoleh untuk membolehkan diri supaya dapat bersaing.
  • tidak ketinggalan zaman
  • dapat bergaul dalam masyarakat dan tidak diabaikan


Artikel berkaitan dengan pembelajaran sepanjang hayat

http://www.bharian.com.my/bharian/articles/Wawancara_Pembelajaransepanjanghayat/Article/index

Rumusan

Tahap kesedaran rakyat negara ini terhadap kepentingan pembelajaran sepanjang hayat (PSH) masih lagi rendah biarpun sudah banyak usaha dan peluang disediakan bagi membolehkan mereka menikmati pendidikan sedemikian. Selain itu, sebahagian besar tenaga kerja di negara ini adalah dari kelompok yang tidak berkemahiran tinggi dan ia dikhuatiri terus menjadi kekangan kepada sasaran negara mencapai status negara maju. Oleh iut,peranan universiti ODL melaksanakan pendekatan lebih agresif dan menyeluruh bagi menggalakkan minat dan kecenderungan masyarakat menambah pengetahuan dan kemahiran sedia ada untuk melahirkan graduan berdaya saing dan kompeten. Hal ini kerana dunia hari ini memerlukan modal insan yang tinggi daya kreativiti dan inovasi.


Artikel berkaitan dengan pembelajaran sepanjang hayat.

http://www.utusan.com.my/utusan/info.asp?y=2008&dt=0120&pub=Utusan_Malaysia&sec=Muka_Hadapan&pg=mh_07.htm

Rumusan
Kerajaan telah memberikan penekanan terhadap konsep pembelajaran sepanjang hayat kerana ia berupaya meningkatkan produktiviti dan peluang pekerjaan, memperkayakan jiwa dan minda dengan ilmu pengetahuan yang berkualiti. Dalam konteks ini, kerajaan memberikan banyak peluang pendidikan seluas-luasnya kerana ia penting untuk membekalkan ilmu terkini kepada masyarakat.Bagi rakyat yang bekerja pula, kerajaan galakkan mereka supaya menambah ilmu kerana persekitaran kerja boleh berubah secara dramatik disebabkan oleh penciptaan teknologi terkini,”

Rujukan